Hmmm…saya baru saja membaca tulisan bapak Jamil Azaini tentang Hukum Kekekalan Energi, dimana segala sesuatunya akan dibalas sempurna kepada kita,
jika kita menggunakan energy positif maka kita akan mendapatkan balasan kebaikan, begitu pula sebaliknya,ketika kita menggunakan energy negative maka kita akan mendapatkan sesuatu yang buruk terjadi terhadap diri kita.
Saya jadi teringat kejadian setengah tahun lalu, malam itu isteri saya mendapati putri kedua saya Nabila Nur Shabrina sakit, isteri saya segera memberinya obat. Hingga pagi datang Nabila belum juga sembuh, kasihan, memory saya kembali ke lima tahun lalu ketika putri pertama saya Zahra Shafiyah harus dilarikan kerumah sakit karena demam berdarah. Saya tidak mau hal itu terjadi, saya upayakan semua mulai dari cara tradisional hingga cara yang menurut beberapa kawan saya efektif dalam menyembuhkan untuk. Tapi sayang, nabila tidak kunjung sembuh, bahkan teriakannya, rengekannya tidak terdengar lagi, ia begitu lemas hingga matanya menatap dengan tatapan kosong.
Keesokan harinya, seperti sabtu pagi biasanya saya pergi untuk pengajian rutin, dengan berat saya tinggalkan Nabila dalam keadaan yang lemah. Tapi istri saya mengingatkan saya untuk tidak terlalu panic…ya untuk hal seperti ini isteri saya memang lebih tenang dari pada saya. Seselesainya menghadiri pengajian, entah kenapa saya spontan mengeluarkan uang 50 ribu rupiah, satu-satunya lembaran uang yang saya miliki. Saya sodakohkan uang itu sambil memohon kepada Sang Kuasa untuk menjadikan sodakoh ini amal yang dapat memberi kesembuhan kepada Nabila.
Tidak lama kemudian, saya menerima SMS yang datangnya dari adik kedua saya. “Kak, Nabila semakin parah kondisinya, kasihan, segera pulang”. Segera saya pulang kerumah untuk melihat kondisi Nabila, sesampainya dirumah, Innalillahi…Nabila sudah sangat lemas sekali, bibirnya pecah-pecah dan mengeluarkan darah. Tak terasa air matapun membasahi pipi. Istri saya kemudian menanyakan uang yang terakhir saya miliki, “bi, kita ke dokter, uang yang lima puluh ribu masih ada kan ?”. Duh tadi sudah kusodakohkan, tapi aku tidak ingin membuat panik isteriku. “Ya sudah kita bawa kerumah sakit”.
Sesampainya dirumah sakit, dokter belum bisa mendiagnosa penyakit Nabila, dan Nabila di harusnya menjalani rawat inap. Dalam hati saya berkata “ Yaa, Allah, aku sedang butuh pertolongan Mu, saat ini juga”. Dua hari sudah Nabila di rawat dirumah sakit, ah entah biayanya dari mana, padahal gaji bulan ini sudah dialokasikan untuk cicilan motor yang telah tiga bulan tertunda.
Ashar di hari itu saya sempatkan untuk sholat berjamaah di masjid yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit, namun ditengah jalan, rupa-rupanya Allah mencoba kesabaran saya sekali lagi, sandal satu-satunya harus copot ditengah jalan, tapi tetep saya lanjutkan perjalanan untuk ashar berjamaah di mesjid. Selesai sholat, saya berdoa sambil menangis hingga meneteskan air mata demi kesembuhan Nabila.
Esoknya Nabila pulih, Subhanallah ia kembali segar dan mulai berbicara, bibirnya pun dengan cepat kembali normal. Tiba saat pulang dan menyelesaikan administrasi, huf…keluar biaya yang cukup besar, tapi Alhamdulillah dapat pinjaman plus mesti potong gaji, terpaksa cicilan harus ditunda pembayarannya. Walau begitu tetap beruntung karena Nabila dapat pulih dalam 3 hari, padahal waktu cek pertama kali, kondisinya sangat parah dan saya termasuk terlambat membawanya kerumah sakit.
Sesampai dirumah, hal tak terduga lain terjadi, sumbangan kawan yang tahu kejadian ini berdatangan, bahkan jumlahnya hamper tiga kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk rumah sakit. Subhanallah, Allah benar-benar tidak pernah mengingkari janji-Nya. Energi positif yang kulakukan, telah terbalas sempurna, bahkan teramat sempurna.
Ditulis Oleh : Yogi Wicaksono











